Pada suatu hari di grup WhatsApp komunitas IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis), Mbak Novi Herdiani, Ketua Umum IIDN, membagikan tautan tentang pentingnya literasi digital di tengah banjir informasi saat ini.
Di zaman sekarang ini, sebagai ibu, saya merasa informasi datang begitu cepat dan dari mana-mana. Baru buka HP beberapa menit, sudah disuguhi berita, video, tips, promosi, bahkan hasil karya AI yang kadang sulit dibedakan dengan buatan manusia.
Di satu sisi, teknologi memudahkan hidup kita.
Di sisi lain, kita juga dituntut untuk lebih cermat, kritis, dan bijak dalam menggunakannya.
Sebuah pertanyaan penting dilontarkan oleh Mbak Novi:”Bagaimana caranya agar kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk belajar, berkarya, dan berkembang?”
Hal ini dilandari oleh kerisauan bahwa begitu banyaknya informasi yang kurang akurat membuat saya terkadang bertanya apakah semua informasi yang kita lihat, baca, dan bagikan benar-benar dapat dipercaya?
Dulu, tantangan utama adalah sulit mendapatkan informasi. Sekarang justru sebaliknya, kita mengalami banjir informasi atau information overload.
Informasi datang terlalu banyak dan terlalu cepat. Di sinilah, sebagai bunda belajar, literasi digital menjadi sangat penting.
Contents
Apa itu Literasi Digital di Dunia AI
Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Selain itu, perkembangan AI membuat tantangan menjadi semakin kompleks. Saat ini AI mampu membuat artikel, foto, suara, bahkan video yang terlihat sangat meyakinkan. Jika kita tidak memiliki kemampuan literasi yang baik, kita bisa kesulitan membedakan mana informasi asli dan mana yang merupakan hasil manipulasi.
Literasi digital adalah kemampuan kita untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawah
Berikut poin-poin penting literasi digital:
Mengakses Informasi
Di era literasi digital, kita harus mampu mencari dan menemukan informasi dari berbagai sumber digital.
Memahami Informasi
Penting sekali bagi kita untuk memahami makna, konteks, dan tujuan informasi yang diterima. Jadi bukan sekadar bisa menggunakan smartphone, membuka media sosial atau mencari informasi di internet.
Karena faktanya, hampir semua orang saat ini sudah bisa melakukan hal tersebut.
Mengevaluasi Informasi
Kita sebagai pengguna teknologi harus mampu menilai kebenaran, keakuratan, dan relevansi informasi secara kritis. Kalau teknologi adalah kendaraan, maka literasi digital adalah kemampuan mengemudikannya dengan aman menuju tujuan yang benar.
Dengan kata lain, literasi digital adalah bekal yang membantu kita tetap cerdas dan bijak di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Menggunakan Informasi secara Bertanggung Jawab
Informasi dari mana pun ibarat pisau, kalau digunakan dengan benar, dia akan sangat bermanfaat dan nilainya positif. Tapi pisau pun menjadi alat yang sangat berbahaya bila digunakan untuk hal negatif.
Oleh sebab itu, mampu memanfaatkan informasi secara bijak, etis, dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kompetensi Literasi Digital

Literasi digital bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis hanya karena kita aktif menggunakan internet atau media sosial.
Sama seperti kemampuan menulis yang perlu dilatih, kemampuan berliterasi digital juga terdiri dari beberapa keterampilan yang perlu dipelajari dan dibiasakan.
Artinya, menjadi pengguna digital yang cerdas membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi. Ada sejumlah kemampuan yang saling melengkapi dan bekerja bersama-sama.
Setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia digital meninggalkan jejak.
Untuk itu kita perlu memahami 5 kompetensi literasi digital sebagai berikut:
Digital Skills
Artinya mempunyai kemampuan menggunakan teknologi. Mampu mengoperasikan perangkat digital, aplikasi, dan internet secara efektif untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, serta memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Digital Ethics
Digital ethics atau etika dalam ruang digital, artinya memahami norma, aturan, dan tanggung jawab saat berinteraksi di dunia digital, termasuk menghormati privasi, hak cipta, dan menjaga kesopanan dalam berkomunikasi.
Digital Culture
Artinya budaya bermedia yang positif, termasuk mendorong penggunaan teknologi untuk membangun lingkungan digital yang sehat, menghargai keberagaman, serta menyebarkan konten yang positif dan bermanfaat.
Digital Safety
Artinya, kita harus menyadari pentingnya keamanan digital. Melindungi data pribadi, akun, dan perangkat dari berbagai ancaman digital seperti penipuan online, peretasan, malware, dan kebocoran informasi.
Digital Intelligence
Terakhir, di sini kita perlu berpikir kritis dan bijak. Mampu menganalisis informasi secara kritis, membedakan fakta dan opini, serta mengambil keputusan yang tepat sebelum bertindak atau membagikan informasi.
Penutup
Apa yang kita unggah, komentari, bagikan, bahkan informasi yang kita isi di berbagai platform digital dapat tersimpan dan membentuk identitas kita di dunia maya.
Inilah yang disebut sebagai JEJAK DIGITAL.
Sering kali kita berpikir bahwa sebuah unggahan hanya dilihat sesaat. Padahal, di dunia digital, informasi dapat tersimpan, disalin, disebarluaskan dan ditemukan kembali bahkan bertahun-tahun kemudian.
Dari uraian di atas, patutlah bagi ayah dan ibu untuk tidak berhenti belajar ilmu parenting, karena setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia digital meninggalkan jejak.
Sumber image: https://www.pexels.com/photo/mother-and-children-watching-on-laptop-4784029/

