You are currently viewing Ketika Memilih Circle Pertemanan Sesuai Usia

Ketika Memilih Circle Pertemanan Sesuai Usia

Tema menulis artikel blog kali ini adalah tentang circle pertemanan, yang kalau istilah gaul adalah merujuk pada kelompok atau lingkaran persahabatan terbatas (eksklusif) yang memiliki ikatan akrab, minat serupa, dan sering melakukan aktivitas bersama. Saya sadari akhir-akhir ini semakin bertambahnya usia ternyata saya memilih circle pertemanan yang lebih memberikan rasa aman, tidak ada drama, dan tidak perlu validasi. Pokoknya jalani saja, baik itu merupakan teman offline maupun online.

Circle Penulisan

Tahun 2014 merupakan titik balik saya, karena mempunyai circle baru selain sebagai pengajar di perguruan tinggi swasta di Bandung. Walaupun mempunyai homebase sebagai dosen tetap, saya mengajar juga di perguruan tinggi lainnya sebagai dosen tidak tetap (dosen luar biasa).

Otomatis circle pertemanan dosen pun melebar, kemudian mengerucut hanya lima orang teman dan membentuk grup WhatsApp. Bisa jadi mengerucut hanya lima orang ini, karena kebetulan kami sama-sama ASN yang ditempatkan sebagai dosen di PTS. Kebijakan negara ini terakhir tahun 2011, karena efisiensi, dan PTS diwajibkan mengangkat sendiri dosen tetap sesuai peraturan.

Ternyata dalam kita berprofesi ada saja rasa jenuh atau konflik kepentingan di tempat pekerjaan, sehingga saya mencari kegiatan lain, yaitu belajar menulis buku.
Tiga bulan, saya menempa ilmu di Sekolah Perempuan sebagai angkatan pertama dibawah bimbingan mentor Indari Mastuti dengan payung perusahaan Indscript Creative. Saya berhasil menerbitkan buku solo pertama “Ketika Anakku Siap Menikah”, diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo.

Dari menulis buku, saya mengenal melalui Facebook, mbak Shinta Reis, yang memberikan tutorial membuat blog berdomain TLD. Sebelumnya saya punya beberapa blog, tapi tidak digeluti serius dan masih domain gratisan. Blog dengan nama pena haniwidiatmoko.com pun publish sambil berpromosi buku yang saya tulis.

Sampai sekarang, walaupun telah purnabakti sebagai pengajar tetap, menulis buku dan ngeblog masih saya lakukan. Dan lingkaran pertemanan dunia blog merupakan lingkaran yang membuat saya nyaman. Saya masih bisa terkoneksi walaupun secara online, kadang-kadang jumpa darat untuk silaturahmi atau mereview suatu produk.

Mungkin karena kami mempunyai tujuan yang sama, dunia penulisan, jadi kami saling menghargai satu sama lain.

Circle Jalan-jalan

Saya dulu punya cita-cita, kalau sudah tidak mengajar, ingin jalan-jalan. Tidak masalah ke mana, bisa ke luar negeri, umroh, dalam negeri, atau sekadar walking tour di dalam kota.

Tak heran kalau grup WhatsApp saya macam-macam grup jalan-jalan dan lingkaran temannya pun, ada teman seangkatan kuliah, teman satu jurusan, teman dosen dari perguruan tinggi se Indonesia.

Atau bisa juga merupakan grup open trip, yang saya baru kenal karena kami satu perjalanan. Tak jarang, setelah selesai perjalanan dan kembali ke rumah, grup tersebut ada yang tetap aktif, ada pula yang saya izin meninggalkan grup.

Tidak banyak sebetulnya grup jalan-jalan tersebut, ada yang waktu saya ke Flores, Sumba, Pantai Ora di pulau Seram, Garut, Yogya, Bangkok-Pataya, Cambodia, Uzbekistan, atau beberapa grup walking/city tour dari beberapa provider.

Sering juga, teman-teman perjalanan ini beririsan, ada di grup Flores, ketemu lagi di grup Sumba, dan lain-lain. Begitu pula grup walking tour, kadang bertemu teman A, nanti pada rute walking tour berikut bertemu dengan teman B.

Suka-duka Memilih Circle Pertemanan

Ketika Memilih Circle Pertemanan Sesuai Usia
jalan-jalan ke Garut bersama teman

Memilih circle pertemanan yang semula karena pekerjaan, kemudian mengerucut menjadi lebih akrab biasanya karena merasa dekat, senasib, seusia, dan banyak sebab-sebab lainnya.
Sedangkan ke luar dari sebuah grup pertemanan pun ada pemicunya, bisa saja sudah tidak sefrekuensi atau ada teman yang terlalu sering validasi keunggulan pribadi sehingga membuat yang lain tidak nyaman.

Zaman heboh pemilihan presiden Republik Indonesia beberapa tahun yang lalu, ada grup alumni masa saya kuliah dulu menjadi terpecah dua. Akhirnya saya pun izin meninggalkan grup, agar hati lebih tenang dan tidak tergiring pada masalah politik.

Menjaga circle pertemanan agar tetap awet, perlu trik tertentu agar lebih sabar dengan berbagai karakter orang lain. Uniknya semakin tambah usia, saya perhatikan ternyata di antara mereka malah semakin baper dan sensitif.

Circle pertemanan sering juga menjadi ajang pamer keberhasilan masing-masing. Bisa dari sukses secara materi, sukses dalam parenting, sukses pendidikan, dan sukses pencapaian kariernya.
Bagaimana dengan orang-orang yang merasa kurang sukses, kurang berhasil secara materi? Jangan khawatir, biasanya akan membentuk lingkaran pertemanan sendiri yang cocok di hati.

Uniknya lagi, itulah yang saya rasakan sekarang ini. Saya kok lebih cocok berteman dengan teman-teman blogger atau teman jalan-jalan yang lebih muda, bukan teman-teman semasa kuliah.

Ada seorang teman dalam artikel blognya menuliskan bahwa semakin bertambah usia, circle pertemanan semakin kecil. Hal ini saya akui ada benarnya, karena semakin bertambah usia, social battery (baterai sosial) cepat kehilangan energi.
Kita pun merasa perlu hemat energi, menghindari sering-sering kumpul-kumpul yang tidak penting.

Penutup

Memilih circle pertemanan benarkah sesuai usia? Baru saja tadi siang lewat di media sosial thread, ajakan untuk bertemu bagi perempuan usia 40-60 tahun. Bahkan baru saja minggu lalu di Garut, bertemu rombongan ibu-ibu komunitas gereja dari Bandung, lalu ibu-ibu rombongan komunitas senam dari Serpong yang berwisata bersama. Mereka terlihat bahagia dengan lingkaran pertemanan seperti ini.

Adakalanya memang memilih lingkaran pertemanan sesuai dengan kondisi. Bisa jadi dulu sangat akrab dengan teman di masa sekolah dan kuliah, ternyata ketika sudah berkeluarga, ada hal-hal yang tidak cocok lagi.

Menurut saya hal ini umum saja, orang kan berubah. Hal-hal yang kurang cocok ditinggalkan, mencari lingkaran baru yang lebih membuat sehat secara mental dan membuat ceria.

admin

katacara.com adalah cerita kita tentang strategi. gaya, kebiasaan, usaha, tips, dan lain-lain, yang mudah dimengerti dan dilakukan.

Tinggalkan Balasan