Sesekali scroll media sosial saya sering mendapatkan kata-kata baru yang belum pernah baca sebelumnya. Salah satunya adalah seringnya muncul istilah “perilaku crab mentality” yang ditujukan pada seseorang, ketika mengomentari suatu kejadian di akun seseorang.
Contents
Mengenal Perilaku Crab Mentality
Perilaku crab mentality atau mentalitas kepiting adalah sebuah istilah psikologi dan perilaku sosial yang menggambarkan fenomena ketika seseorang mencoba menarik jatuh orang lain yang sedang mulai meraih kesuksesan.
Istilah ini berasal dari pengamatan terhadap perilaku kepiting di dalam sebuah ember. Jika ada satu kepiting yang mencoba memanjat keluar, kepiting-kepiting lainnya tidak akan membantu, melainkan justru menjepit dan menariknya kembali ke bawah. Hasilnya, tidak ada satu pun kepiting yang berhasil keluar dan semuanya berakhir di meja makan.
Agak serem juga ya, “berakhir di meja makan”, karena diolah menjadi menu Kepiting Rebus atau Kepiting Saos Padang.

Filosofi di Baliknya
Mantra utama dari mentalitas ini adalah: “Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kamu juga tidak boleh.”
Ini adalah bentuk perilaku yang lahir dari rasa iri, cemburu, dan rasa tidak aman (insecurity). Mereka merasa terancam dengan kemajuan orang lain karena hal itu membuat mereka merasa “tertinggal” atau tampak “gagal.”
Perilaku ini sering kita jumpai di lingkungan persaudaraan, antar kakak-adik, suami-istri, antar teman kerja atau lingkungan pertemanan di sekolah.
Ciri-ciri Mentalitas Kepiting di Sekitar Kita
Perilaku crab mentality ini yang paling sering muncul dalam bentuk perundungan verbal maupun literasi dalam bentuk tulisan fisik maupun digital.
Contohnya:
- Kritik yang Tidak Membangun: Meremehkan ide atau pencapaian orang lain dengan komentar seperti, “Halah, paling cuma hoki,” atau “Jangan sombong dulu, nanti juga jatuh.”
- Menghambat Progress: Memberikan saran yang sengaja menyesatkan atau menyembunyikan informasi penting agar orang lain gagal.
- Gosip dan Fitnah: Menyebarkan berita negatif ketika seseorang mulai menonjol agar reputasinya rusak.
- Merasa Terancam: Bukannya terinspirasi oleh keberhasilan orang lain, mereka justru merasa harga dirinya jatuh.
Agar lebih mudah dikenali, berikut adalah beberapa contoh nyata crab mentality dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari:
Di Lingkungan Kerja (Profesional)
Ini adalah tempat yang paling sering menjadi wadah munculnya mentalitas kepiting karena adanya kompetisi.
Contoh: Seorang karyawan baru yang sangat rajin dan inovatif berhasil mendapatkan pujian dari atasan. Rekan kerja senior yang merasa terancam bukannya belajar dari cara kerja si baru, malah menyebarkan gosip bahwa si karyawan baru tersebut “cari muka” atau “penjilat”. Tujuannya adalah agar reputasi si karyawan baru buruk di mata rekan lain dan ia merasa tidak nyaman bekerja.
Dalam Lingkungan Pertemanan (Gaya Hidup)
Sering terjadi ketika seseorang mencoba memperbaiki kualitas hidupnya.
Contoh: Seseorang memutuskan untuk menjalani gaya hidup sehat, berhenti merokok, dan rutin olahraga. Teman-teman nongkrongnya, bukannya mendukung, malah terus-menerus mengejek dengan kalimat seperti, “Sok sehat banget sih,” atau sengaja terus menawari rokok dan gorengan sambil berkata, “Satu aja nggak akan bikin mati kali, nggak asik lu sekarang.” Mereka menarik kembali ke kebiasaan lama karena mereka tidak ingin merasa “tertinggal” atau merasa bersalah melihat lebih sehat.
Di Dunia Pendidikan (Akademik)
Contoh: Ada seorang siswa yang sangat ambisius dan selalu belajar untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Teman-temannya yang malas mulai mengucilkannya, tidak mengajaknya main, dan menyebutnya “si kutu buku yang sombong”. Tekanan sosial ini seringkali membuat si siswa tersebut akhirnya menurunkan standar belajarnya hanya agar kembali diterima di lingkaran pertemanan tersebut.
Dalam Lingkungan Keluarga/Tetangga
Bahkan keluarga pun bisa terjebak dalam mentalitas ini.
Contoh: Seorang pemuda di desa ingin mencoba peruntungan dengan membangun bisnis startup atau konten kreator di kota besar. Anggota keluarga lainnya justru meremehkan dan menakut-nakuti dengan risiko kegagalan, menyuruhnya tetap di desa menjadi buruh seperti yang lain, bukan karena peduli, tapi karena mereka tidak nyaman melihat ada anggota keluarga yang berpotensi jauh lebih sukses dari mereka.
Tetangga bisa sebagai keluarga terdekat, tetapi belum tentu juga tetangga mendukung apa yang kita lakukan.
Baru-baru ini saya membaca sebuah utas di Thread, seorang ibu merasa patah hati ketika baru mulai bisnis kuliner. Ternyata tetangganya justru menebar fitnah, bahwa masakan buatannya tidak enak.
Di Media Sosial (Netizen)
Contoh: Ketika ada seseorang yang baru memulai bisnis kecil dan mempromosikannya, alih-alih memberikan dukungan atau kritik membangun, orang lain justru memberikan komentar jahat, mencari-cari kesalahan kecil, atau melaporkan (report) akun tersebut tanpa alasan jelas hanya karena mereka tidak suka melihat orang lain mulai merintis kesuksesan.
Mengapa Hal Ini Terjadi?
Secara psikologis, ada beberapa alasan mengapa orang memiliki perilaku crab mentality:
- Kurang Percaya Diri: Mereka merasa tidak mampu mencapai hal yang sama, sehingga menarik orang lain turun adalah cara termudah untuk merasa “setara.”
- Zero-Sum Game Thinking: Anggapan salah bahwa kesuksesan orang lain berarti jatah kesuksesan untuk diri sendiri berkurang.
- Ketakutan Akan Perubahan: Jika satu orang sukses dan berubah, mereka takut hubungan mereka akan merenggang atau mereka akan kehilangan teman “senasib.”
Penutup
Apakah kalian pernah menemui perilaku seperti ini di lingkungan kerja atau pertemanan?
Untuk memutus rantai perilaku crab mentality ini, cobalah mengubah sudut pandang:
- Ubah Iri menjadi Inspirasi: Katakan pada diri sendiri, “Kalau dia bisa, berarti ada caranya. Saya mau belajar dari dia.”
- Kesuksesan Bukan Kuota: Ingatlah bahwa kesuksesan orang lain tidak mengurangi kesempatan kalian untuk sukses. Dunia ini cukup luas untuk keberhasilan banyak orang sekaligus.
Apakah kamu sedang berada di situasi ketika merasa “ditarik jatuh” oleh orang lain?
Jika kalian merasa sedang ditarik jatuh oleh orang-orang dengan mentalitas ini, lakukan tips berikut:
- Tetap Fokus pada Tujuan: Jangan biarkan komentar negatif menghentikan langkahmu. Ingat, mereka menarik kalian karena posisimu sudah berada di atas mereka.
- Cari “Ember” yang Baru: Kelilingi diri kalian dengan orang-orang yang suportif dan memiliki visi yang sama. Kadang kita harus ganti lingkaran pertemanan agar bisa berkembang.
- Tetap Rendah Hati (Tapi Tegas): Berbagi kesuksesan dengan bijak tanpa terlihat pamer, namun tetap berikan batasan jika tindakan mereka sudah mulai menyabotase Anda.
- Catatan Penting: Terkadang kita sendiri tanpa sadar bisa memiliki mentalitas ini. Jika merasa iri dengan teman, cobalah untuk bertanya: “Apa yang bisa saya pelajari darinya?” alih-alih “Bagaimana cara dia jatuh?”
Sumber image: https://varnam.my/50210/crab-mentality-and-why-is-it-so-prevalent-in-malaysias-indian-society/

