You are currently viewing Kenangan Hidangan Lebaran di Keluarga Kami

Kenangan Hidangan Lebaran di Keluarga Kami

Kenangan cerita hidup saya tentang Lebaran yang bisa dituliskan sepertinya setelah remaja. Sejak lahir hingga remaja, saya ikut ayah yang pindah-pindah tugas di Angkatan Darat.
Saya hanya ingat sedikit saja, ketika TK dari Magelang ke Semarang, ke rumah Eyang untuk berlebaran.
Eyang dari pihak Ibu ini, ketika Eyang Kakung wafat, rumah di Semarang dijual, kemudian Eyang Putri diboyong oleh putra-putrinya ke Jakarta. Praktis setelah itu, saya tidak pernah merasakan mudik lebaran seperti yang dilakukan oleh jutaan warga Indonesia. Masa itu kami sekeluarga pun telah menetap di Jakarta.

Silaturahmi dan Lontong Ketupat Hidangan Lebaran

Setiap Lebaran, ayah-ibu menetapkan open house di rumah kami. Ayah yang seorang komandan di kesatuannya, maka pada hari Lebaran tersebut kedatangan tamu, anak buah beserta keluarganya. Selain itu, Ibu, putri sulung dari Eyang yang pindah dari Semarang itu. Sedangkan adik-adik Ibu ada lima orang yang juga menetap di Jakarta.

Bisa dibayangkan kan, betapa sibuknya rumah kami di hari pertama dan hari kedua Idul Fitri. Walaupun kami dulu punya ART, tetapi seringnya mereka sudah pamit mudik. Ya tentu saja, kami lah anak-anaknya yang ketempuhan gedebugan menyiapkan konsumsi untuk tamu-tamu.

Saya ingat Ibu sudah memasak lontong dan ketupat sehari-dua hari sebelumnya. Saya lah yang ditugaskan mengisi beras ke dalam selongsong lontong dan ketupat.
Ketupat yang baru matang tersebut digantung, supaya tidak cepat basi. Kalau lontong, memang agak tricky supaya lebih awet.

Besoknya, ketika kedatangan tamu, maka saya dan kakak saya yang mendapat tugas memotong lontong dan ketupat, menghidangkan dalam piring saji agar siap makan.
Lauk-pauknya antara lain gulai kambing, opor ayam, sambel goreng hati sapi, bubuk kedelai, dan kerupuk.

Biasanya, rombongan tentara anak buah Ayah tiba agak pagi hari, nanti kira-kira siang hari, barulah rombongan keluarga Ibu.
Nah, ada kesepakatan di keluarga Ibu ini kalau silaturahmi pas Lebaran ini, mereka juga membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama. Istilahnya “pot luck”.
Seringnya tidak nyambung sih antara masing-masing hidangan yang dibawa adik-adik Ibu, tapi di sinilah keseruannya…

Acara keluarga seperti ini yang penting silaturahmi dan kumpul-kumpulnya. Seringkali di acara seperti ini ada saja kisah inspiratif yang dituturkan oleh Om atau Tante, adik-adik dari Ibu.

Ada tante Poen, adik Ibu, selalu membawa Makaroni Schotel. Lalu ada tante Anni, yang membawa Puding Karamel, yang manis gurih dan lembut. Nanti ada lagi yang membawa Rujak Bangka, yang segar banget.
Eyang Putri saya, yang sehari-hari pindah rumah dari satu anak ke anak lain, tetapi pas Lebaran selalu tinggal di rumah kami. Mungkin karena Ibu sulung, yang selalu dikunjungi adik-adiknya, sekalian saja, sungkem ke Eyang, bukan?…

Eyang Putri pun tak kalah untuk ikut pot luck, yaitu beliau memasak satu jenis masakan yang bernama Petis Bumbon, artinya petis berbumbu.

Petis adalah bahan masakan berbentuk pasta, berwarna coklat kehitaman, yang dibuat dari sari udang, kupang, atau ikan yang dimasak lama hingga kental. Memiliki rasa gurih-manis, petis adalah bumbu khas Nusantara, terutama populer di Jawa Timur, yang sering digunakan untuk rujak cingur, tahu petis, dan lontong balap.

Resep Petis Bumbon

petis bumbon

Petis bumbon menu khas buatan Eyang Putri ini, bahan dasarnya adalah telur puyuh yang diberi bumbu kuah kental yang diberi petis dan cabai rawit.

Menu ini munculnya hanya tiap Lebaran dan selalu dicari oleh anak-mantu-cucu beliau. Enak banget menjadi pelengkap lontong opor dan gulai. Penampilannya memang engga banget kurang menarik selera, hasil jadinya coklat gelap sih…tapi endez poll lah.

Saya sempat minta resepnya ke beliau dan membuatnya ternyata mudah sekali.

Bahan-bahan

  • Bahan-bahan:
  • 5 butir bawah merah
  • 2 siung bawang putih
  • 4 buah cabai merah
  • Seiris laos
  • 2 lembar daun salam
  • Seiris kunci
  • 150 cc santan kental
  • 2 sendok teh petis dicairkan dengan sedikit air panas.
  • 10 butir telur burung puyuh, rebus.
  • Beberapa buah cabai rawit.

Cara membuat

  • Ulek jadi satu bawang merah, bawang putih dan cabai.
  • Tumis hingga harum.
  • Masukkan bumbu lain, tuang santan kental dan petis.
  • Aduk-aduk.
  • Terakhir masukkan telur dan cabai.
  • Petis Bumbon siap disantap bersama lontong opor.

Penutup

Ketika saya berumah tangga, saya jarang masak hidangan Lebaran, karena posisinya selalu bergantian mengunjungi ke rumah orang tua atau mertua. Kalau tahun ini hari pertama ke orang tua di Jakarta, maka hari kedua kembali ke Bandung untuk silaturahmi di rumah mertua, yang sama-sama di kota Bandung. Begitu sebaliknya, bisa tahun depan, hari pertama di Bandung, besoknya ke Jakarta.

Setelah orang tua dan mertua wafat, lalu ritual Jakarta-Bandung hanya kadang-kadang kami lakukan, silaturahmi ke kakak kandung atau kakak ipar.

Maka saya pun mulai memasak hidangan Lebaran dan pernah mencoba membuat Petis Bumbon ini, sebuah kenangan hidangan Lebaran masa remaja saya. Ternyata anak-anak doyan banget dan menu yang dicari oleh anak-anak saya.

Kalau kami silaturahmi Lebaran ke keluarga lain, termasuk ke kakak-kakak ipar atau kakak kandung, tidak pernah menjumpai hidangan khas keluarga kami, Petis Bumbon ini.

admin

katacara.com adalah cerita kita tentang strategi. gaya, kebiasaan, usaha, tips, dan lain-lain, yang mudah dimengerti dan dilakukan.

Tinggalkan Balasan